Minggu, 24 Januari 2016

Alasan ke-17: Karena taqwa diindikasikan pula oleh kualitas ber-muamalah

Dalam Al-Quran disebutkan 251 kali kata “taqwa” [i]Taqwa adalah konsep sentral dan luhur dalam memahami Islam dan mempengaruhi jalan kehidupan kita sehari hari. Taqwa meliputi aspek moral, karakter, tingkah laku, dan ekonominya.
Taqwa dalam pengertian bahasa adalah menjaga sesuatu dari yang menyakiti dan yang membahayakan. Yaitu sebuah upaya untuk menjadikan kita selalu dalam keadaan terpelihara dari sesuatu yang salah dan kotor [ii]. Secara sederhana esensi taqwa dimaknai sebagai “takut”. Takut dari segala yang menimbulkan dosa. Taqwa berarti upaya pembentengan diri dengan ketaatan yang total kepada Allah dari segala bentuk hukuman–Nya. Taqwa menjadi benteng yang akan melindungi dari segala sesuatu yang menyebabkan seseorang dapat terkena hukuman, baik menyangkut sesuatu yang harus dilakukan atau sesuatu yang harus ditinggalkan. Taqwa dilukiskan sebagai puncak prestasi hidup yaitu menjadi manusia yang paling mulia (Al Hujuraat: 13). Menurut Sayyid Quthb, taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan [iii].

Akhlak orang bertaqwa dalam konteks hablul minnallah adalah mereka yang beriman kepada yang gaib (Al Baqarah: 3–4), mendirikan shalat, menafkahkan rezeki,  yakin akan adanya akhirat, menahan amarahnya, suka memaafkan, dan jika salah segera bertaubat. Sementara, dari sisi kehidupan ekonomi, cirinya adalah ekonomi yang baik. Jadi, orang yang taqwa berakhlak mulia dan ekonominya pasti kuat. Ini sesuai dengan janji Allah. ”Kalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (berupa kekayaan, kemakmuran) (Al-A’raf: 96). Dan, seluruh dimensi ibadah merupakan tangga maju ketaqwaan. Alquran telah memuat mengenai kunci meraih sukses, dimana salah satunya adalah taqwa [iv].

Kita hapal betul dengan hadits ini: Berkerja keraslah kamu untuk duniamu seolah olah kamu akan hidup selama lamanya, berkerja keraslah untuk akhiratmu seolah olah kamu mati esok hari. Allah lebih senang muslim yang kuat iman dan ekonominya dari muslim yang lemah. Manusia dan masyarakat yang sukses adalah yang berakhlak mulia dan mendapat rezeki kekayaan yang banyak dari Allah. Jadi, taqwa termasuk sebab turunnya rezeki. Taqwa menjadi kunci rezeki. Barangsiapa bertaqwa dijanjikan akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka [Ath Thalaq: 2-3].

Ya, kita mesti yakin seyakin-yakinnya dengan kebenaran, kedahsyatan dan keajaiban al-quran dan as-sunnah dalam menunjukkan jalan bisnis. Menurut buku “Berani Kaya, Berani Taqwa” [v], al-quran dan sunnah adalah "jalan tol" yang akan membikin anda kaya-raya. Untuk anda yang ingin kaya-raya tanpa batas dengan gelimang berkah, rahmat dan karunia Allah, al-quran dan sunnah adalah guide paling nyata, jelas, setia dan benar dalam mengantarkan bisnis anda ke gerbang kesuksesan tak terbatas (unstoppable succsess), meraih kesuksesan besar, serta kebahagiaan tak terperikan, tidak hanya di dunia ini tapi juga di akhirat nanti.

Sebagai buah dari taqwa, maka manusia taqwa akan mendapatkan mahabbah Allah (At Taubah: 4), Allah akan selalu bersama langkah dan fikirnya (An Nahl: 128), mendapat manfaat dari apa yang dibaca di dalam al-quran (Al Baqarah: 2), lepas dari gangguan syetan (Al A’raf: 35), diterima amal-amalnya (Al Maidah: 27), serta mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan mendapat jalan keluar setelah kesempitan (Ath Thalaq: 2 dan 4). Taqwa berimplikasi langsung pada kehidupan sosial (muamalah). Pada masyarakat yang anggotanya bertaqwa akan lahir keamanan dalam masyarakat, ketenteraman, keadilan, dan tersebarnya kedamaian. Ciri orang bertaqwa adalah memenuhi rukun iman dan Islam, menepati janji, jujur kepada Allah, dirinya dan manusia dan menjaga amanah. Dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Manusia taqwa adalah sosok yang tidak pernah menyakiti dan tidak zhalim pada sesama, berlaku adil di waktu marah dan ridha, bertaubat dan selalu beristighfar kepada Allah.

Urusan ber-muamalah sangatlah serius. Kita semestinya jauh lebih hati-hati dalam hubungan dengan manusia. Jika kita berbuat salah pada seseorang lalu orang tersebut tidak mau memaafkan kita, apa yang bisa kita dilakukan? Shalat dan puasa sebanyak-banyaknya pun tak bisa menghapus luka hati yang telah kita timbulkan. Bukankah pernah terjadi seseorang baru lepas dari siksa sedemikian lama dalam sakratul maut setelah ibunya memaafkannya.
Setidaknya lima alasan berikut bisa membuktikan betapa seriusnya perihal muamalah [vi]

Pertama, proporsi antara ayat-ayat sosial (muamalah) dengan ayat ibadah (mahdhah) dalam al-quran dan hadits adalah 100 berbanding 1. Sebagai misal, dalam surat Al Mukminun ayat 1-9 ciri orang yang mukmin adalah shalatnya khusuk, menghindarkan diri dari perbuatan yang tak bermanfaat, menjaga amanat dan janjinya, dan menjaga kehormatan dari maksiat. 

Kedua, dengan prinsip muamalah membolehkan penangguhan atau memendekkan ibadah individual bila waktunya bersamaan dengan urusan ibadah bersama. 

Ketiga, ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih dari ibadah yang bersifat perseorangan. Nilai shalat berjamaah 27 kali lipat dibanding shalat sendiri.

Keempat, berkaitan dengan kifarat. Ibadah mahdhah yang tidak sempurna atau batal karena melanggar pantangan tertentu tebusannya berupa sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Berhubungan suami isteri di waktu puasa boleh diganti dengan memerdekakan budak, tidak sanggup berpuasa boleh diganti dengan membayar  fidyah, dan tidak berihram boleh ganti dengan potong unta dan dagingnya dibagi-bagikan. Terakhir, kelima, amal baik di bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. “Maukah kamu aku beritahu derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sadaqah? Sahabat menjawab: tentu. Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar”  [vii].

Dalam hadits Bukhari dan Muslim[viii] terdapat beberapa hadits yang berkenaan dengan ini.  Dari Abu Hurairah: “Orang yang berusaha untuk membantu para janda dan orang miskin diibaratkan sebagai orang yang berperang di jalan Allah, orang yang bangun shalat sepanjang malam dan seperti orang yang berpuasa tanpa berhenti” [ix]. Betapa pentingnya hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi [x], dan mendamaikan perselisihan [xi], sehingga  tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturrahmi [xii]. Lebih jauh dari Ibnu Umar: 

”Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lain. ... barang siapa yang mampu memenuhi hajat saudaranya, maka Allah pun akan berkenan memenuhi hajatnya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan kepada seorang muslim, maka Allah akan melapangkan salah satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Barang siapa yang menutup aib seseorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat nanti”  [xiii]

Masih relevan dengan ini, hadits dari Abdullah bin Amru disebutkan bahwa sifat yang paling baik dalam Islam adalah memberikan makan serta salam [xiv], serta seseorang yang menyelamatkan kaum muslim dengan lidah dan tangannya [xv], terlebih lagi membantu orang untuk memiliki perkerjaan [xvi]


[i] Taqwa: ciri2 orang bertaqwa adalah berkahlaq mulia, qolbu bersih dan kuat ekonominya. http://latifabdul.multiply.com/....
[ii] Makna dan Esensi Taqwa. 7 April 2008. http://ikadi.org/artikel/ …
[iv] Berdasarkan al-quran tersebut, Valentino Dinsi menulis sebuah buku mengenai rahasia meraih sukses dalam hidup berdasarkan landasan agama Islam. Ia menyebut ada “8 Rahasia Mencapai Kebahagiaan Dunia Akhirat (Buku "8 Secrets by valentino Dinsi"), yaitu: desire atau kekuatan niat, ask atau kekuatan do'a, vizualitation atau kekuatan dzikir, believe atau kekuatan iman dan taqwa, gratitude atau kekuatan bersyukur, charity atau kekuatan sedekah, meditation atau kekuatan tahajud,  serta total action dan total surrender atau kekuatan mujahadah dan tawakal.
[v] Anif Sirsaeba. Berani Kaya, Berani Takwa. Penerbit Republika. 65 halaman.
[vi] Lima perhatian agama terhadap masalah sosial ala Jalaludin Rahmat [Abudin Nata. 2003. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. hal. 39-42.)
[vii] Hadits diriwayatkan HR Abu Dawud, Turmuzi, dan Ibnu Hibban.
[viii] Al-Bayan. 2007. Shahih Bukhari Muslim. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Editor: Hendra S dan Tim Redaksi JABAL. Penerbit JABAL, Bandung. Hal 535.
[ix] Al-Bayan. 2007. hal 528, hadits no. 1719.
[x] Al-Bayan. 2007. hal 462, hadits no. 1506, 1507 dan 1508.
[xi] Al-Bayan. 2007. hal 467, hadits no. 1527.
[xii] Al-Bayan. 2007. hal 462, hadits no. 1507.
[xiii] Al-Bayan. 2007. hal 465, hadits no. 1519.
[xiv] Al-Bayan. 2007. hal 32, hadits no. 24.
[xv] Al-Bayan. 2007. hal 32, hadits no. 25.
[xvi] Al-Bayan. 2007. hal 37, hadits no. 50.