Sabtu, 23 Januari 2016

Alasan ke-3: Karena bekerja keras lahir dari hati yang bersyukur

Keluarga Nabi Daud bekerja untuk bersyukur akan nikmat Allah. Inilah arti sebenarnya bekerja. Dalam konsep ESQ, kita lihat indikasi, bahwa kerja yang sukses lahir dari hati yang patuh. Hati yang bulat dan kuat, hati yang bersyukur.
ESQ adalah konsep kecerdasan yang menggabungkan tiga kecerdasan IQ, EQ dan SQ [i]. IQ dikenal pertama kali sebagai kemampuan mengingat, menghafal dan menghitung (numerical) yang diperkenalkan Alfred Binnet tahun 1905. EQ ditemukan Daniel Goleman, dimana diyakini bahwa kecerdasan emosi adalah bentuk kemampuan seseorang memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan, serta kemampuan mengambil keputusan tepat dengan cara tepat, dan dalam waktu yang juga tepat. EQ diyakini menjadi kunci keberhasilan seseorang. Kenyataannya kemudian, IQ dan EQ saja belum cukup. Ternyata banyak orang sukses merasa ”kering”, stres, dan merasa kurang dihargai. Intinya, ia kehilangan makna atau menderita spiritual pathologis. Tahun 1990-an lahirlah kesadaran perlunya aspek spiritual (SQ) dipertimbangkan.
Akhirnya, diyakini bahwa agar manusia mampu mengelola kehidupannya ia butuh 3 kecerdasan sekaligus yaitu IQ, EQ dan SQ. Fungsi IQ adalah What I think (apa yang saya pikirkan) untuk mengelola kekayaan fisik atau materi (physical capital), fungsi EQ adalah What I feel (apa yang saya rasakan) untuk mengelola kekayaan sosial (social capital), dan fungsi SQ adalah Who am I (siapa saya) untuk mengelola kekayaan spiritual (spiritual capital). Disimpulkan bahwa pencapaian kualitas manusia ideal yang proporsional adalah manusia unggul yang cerdas secara intelektual, emosi serta spiritual. Ketiganya harus hadir sekaligus, tidak terpisah-pisah.
Untuk membangun ketiga kecerdasan tersebut secara sistematis dan integral, The ESQ Way 165 punya jalannya. Langkah pertama, adalah membangun God Conciousness atau rasa kesadaran ketuhanan, yaitu kesadaran merasa melihat dan dilihat Tuhan, dan di sinilah SQ terbentuk. Kemudian sifat-sifat ketuhanan dijadikan nilai tertinggi, maka terciptalah 1 (satu) nilai universal seperti: kejujuran, kedamaian, kebersamaan, kasih sayang, disiplin, tanggungjawab, dan keadilan yang bersumber dari asmaul husna.
Langkah kedua, dibangun 6 (enam) prinsip mental untuk membentuk kecerdasan emosi (EQ) yang terinspirasi dari 6 (enam) nilai-nilai Rukun Iman. Langkah ketiga adalah bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai spiritual (SQ) dan mentalitas (EQ) ke dalam dimensi fisik (IQ) atau langkah nyata agar tetap pada garis orbit hukum alam, sehingga menciptakan langkah dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai spiritual. Langkah tersebut diambil dari nilai-nilai 5 (lima) Rukun Islam. Jadi, The ESQ Way 165 sesungguhnya terinspirasi dari trilogi Ihsan-Iman-Islam, yang mampu menjawab pertanyaan besar tentang bagaimana menjaga keseimbangan SQ-EQ-IQ yang menggabungkan sufisme-filosofi-sains secara ilmiah-elaboratif dan sarat sentuhan spiritual-transendental.
Dalam lima langkah sukses berdasarkan rukun Islam, khususnya pada konteks social strength, ada dua point penting, yakni strategic collaboration, dimana dikeluarkan potensi suara hati yg bersumber pada asmaul husna dan berkolaborasi dengan  lingkungan sosial melalui kebiasaan memberi. Kedua, adalah total action yaitu dengan mentransformasikan seluruh potensi diri (IQ, EQ, SQ) dan suara hati yang bersumber pada asmaul husna menjadi derap langkah secara total dalam setiap gerak kehidupan.
Untuk mencapai ini dibutuhkan serangkaian pelatihan. Training ESQ Character Building akan menjadikan peserta seorang pribadi yang memiliki karakter kuat dan tangguh[ii]. Lalu dilanjutkan dengan training ESQ Self Control untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan diri serta mengalahkan semua kelemahan. Pada training ESQ Strategic Collaboration peserta akan diajak untuk menemukan potensi yang tak ternilai yaitu kolaborasi serta menciptakan tim kerja yang solid, lalu training ESQ Total Action memberi kemampuan mengeksekusi, untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan.

Alasan ke-2: Karena bekerja keras tidak timbul tanpa etos

Etos kerja merupakan sikap dasar, sikap hidup, semangat, dan nilai yang ada pada individu dan masyarakat berkenaan dengan kerja. Etos kerja merupakan pola bagi (fungsi nilai) dan unsur pendorong (fungsi sikap) untuk mewujudkan perilaku kerja. Ia merupakan wujud ideal serta wujud mentalitas dari manusia bersangkutan. Etos kerja menyangkut sistem nilai yang dianutnya. Ada empat hal yang melekat pada etos kerja yaitu: sebagai nilai, sikap dasar dan sikap hidup, terwujud pada perilaku, dan sebagai bentuk respon terhadap lingkungan.

Lebih mendasar dari itu, kata “etos” menunjuk pada sikap mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup [i]. Etos kerja adalah “…. a set of values based on the moral virtues of hard work and diligence. It is also a belief in the moral benefit of work and its ability to enhance character”. Ia merupakan aspek evaluatif, berkenaan dengan ide, cita, dan pikiran yang akan menceritakan sistem tindakan. Sumber yang kuat untuk menghasilkan etos adalah keyakinan religius. Orang akan bekerja keras apabila kerja dianggap sebagai kewajiban hidup yang sakral. Yang lebih bernilai adalah “kerjanya”, bukan “hasil kerjanya”.

Selain dari religi, etos juga dapat berasal dari nilai-nilai budaya dan sikap hidup suatu masyarakat. Jadi, sumber motivasi kerja seseorang dapat berasal dari agama yang dianutnya, kebudayaan, sistem soisal, kepribadian, dan lingkungannya.

Etos kerja (himmatul 'amal) sesuatu yang serius dalam Islam. Islam sangat mendorong ummatnya untuk selalu bekerja keras, bersungguh-sungguh banting tenaga, memeras seluruh kemampuan dalam menjalankan tugasnya dan tanggung jawabnya. Semua ini prasyarat menuju ihsan, sebagai puncak ibadah dan akhlak. Allah SWT dan Rasulullah SAW secara khusus mendoakan keberkahan untuk mereka ini. Dalam satu hadits disebut, Allah SWT senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) mencari rizki yang halal.
Orang yang bekerja yang dilandasi etos kerja tidak hanya sekadar profesional. Wujud visual yang mudah diindikasi untuk melihat kualitas kerja seseorang memang profesionalisme. Ciri orang yang profesional adalah bertanggung jawab secara individual, mampu mengaplikasikan teknik-teknik intelektual tercanggih, bersikap mandiri (self-organization), dan motivasi altruistiknya tinggi. Seseorang akan menjadi profesional apabila memiliki  keterampilan yang didasarkan pengetahuan teoritis, keterampilan yang membutuhkan training dan pendidikan, menunjukkan kompetensi dengan melewati test, integritas, terorganisasi, dan pelayanan kepada pemanfaat.
Dalam etos dirumuskan apa yang dianggap paling penting dan bagaimana mencapainya. Dalam konteks muslim, etos kerja muslim dapat didefinisikan sebagai bentuk kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja memuliakan dirinya dan menampakkan kemanusiannya, melainkan juga sebagai manifestasi dari amal saleh. Apa yang dilakukannya mestilah selalu dilingkupi selubung  nilai ibadah yang sangat luhur. Ia tekun dalam bekerja karena ia takwa, amanat dan ikhlas. “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri, ...”  (hadits HR Bukhari). Etos kerja islam adalah suatu sikap mental yang mendorong pengerjaan sesuatu secara optimal dan berkualitas, atau pencapaian performa yang itqan. Suatu kinerja yang sungguh-sungguh, akurat dan sempurna.
Etos kerja tidak lahir begiru saja.  Akarnya adalah, menurut Immanuel Kant (seorang Bapak filosofi modern), menekankan pentingnya menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sebuah sasaran pengembangan etos kerja. Arti penting dari manusia itu sendiri sebagai tujuan perubahan, bukan manusia sebatas sebagai SDM atau sebagai sarana produksi. Jadi, basisnya terletak pada nilai-nilai [ii]. Nilai-nilai itu dihidupi dan dikembangkan oleh manusia yang menjadi subyek atas perilaku dan tindakannya sendiri.
Kondisi alam merupakan sebuah faktor yang dapat membentuk kerja keras. Di wilayah dekat kutub misalnya kehidupan lebih sulit. Cuaca yang ekstrim membuat penduduknya harus berusaha keras dalam bertahan hidup sehingga terbentuk orang-orang yang tangguh, disiplin dan pekerja keras. Sedangkan di negara tropis dimana tanahnya subur dan sumber daya alam melimpah, orang-orangnya tidak perlu bersusah payah untuk sekedar makan. Alam yang memanjakan ini dipercaya sebagai penyebab terbentuknya pribadi-pribadi yang tidak tangguh dan cenderung malas.
Tapi ini tidak diterima banyak kalangan. Banyak bukti, orang Indonesia yang tropis, tidaklah pemalas. Keperkasaan sebagai bangsa maritim dicatat oleh Afonso de Albuquerque (Portugis) [iii]. Kapal-kapal jung Melayu dan Jawa bahkan lebih besar dari milik si Portugis


[i] Geertz, Clifford. Ethos, World View, and The Analisys of Sacred Symbols. Dikutip dari Taufik Abdullah. 1988. Agama, Etos Kerja, dan Perkembangan Ekonomi. Hal. 3.
[ii] Huntington dalam artikelnya ”Culture Count” di bunga rampai Culture Matters, New York, 2000
[iii] Dalam buku karya Joao de Barros berjudul "Da Asia" (deretan II, jilid VI, bab VII), terbit tahun 1533, diterangkan bahwa De Albuquerque melepas dari Malaka tahun 1511 empat kapal ... "termasuk satu kapal jung rampasan yang awaknya orang Jawa melulu, yang di antaranya banyak tukang kayu, juru dempul, dan juru alat mekanik, yang dinilai tinggi sekali keahliannya. Orang-orang Jawa ini ahli-ahli besar segala kejuruan pelayaran [grandes homens deste mister do mar]". Kapal terbesar yang pernah dibangun di Indonesia pra-kolonial adalah jung yang berpenyisihan air 1000 ton yang turun gelanggang di Jepara pada tahun 1513. Dilaporkan de Barros pula bahwa tahun 1513, Pati Unus putra mahkota Kesultanan Demak yang menjabat Adipati Jepara, berangkat dengan 90 kapal untuk menyerang Malaka. 

Alasan ke-1: Karena bekerja dan bekerja keras beda

Secara sederhana “work” adalah “physical or mental effort or activity directed toward the production or accomplishment of something”. Dalam pengertian ilmu fisika, kerja adalah transfer of energy by a force acting to displace a body”. Kerja adalah usaha dikalikan jarak. Menurut thesaurus, “hardworking” sebagai kata sifat dekat-dekat dengan hard work, diligent, perseverance, industrious, untiring, dan tireless. Kata "industri" arti asalnya tidak lain daripada "kerajinan".
Beberapa kata yang dekat dengan kerja keras di antaranya adalah rajin, tekun, ulet, teliti, sabar, sungguh-sungguh, dan tidak asal-asalan. Bekerja dengan sabar dan ulet berarti tidak mudah putus asa dan menyerah. Orang-orang yang ulet selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugasnya. Penulis buku best seller “Berpfikir dan Berjiwa Besar” meyakini bahwa kesulitan apapun tidak akan tahan terhadap ketekunan dan keuletan[i]. Kerja baru disebut tuntas “bila sampai menjamah patokan tapal batas”.
Bekerja keras adalah bekerja yang susah payah. Nasehat Imam Syafi’i: ”Berangkatlah, niscaya engkau mendapat ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras. Ketika air mengalir ia akan menjadi jernih, dan ketika berhenti ia aka menjadi keruh. Singa  jika tak keluar dari sarangnya tak akan  mendapatkan mangsanya, sebagaimana anak panah tak meninggalkan busurnya tak akan mengenai sasaran. Biji emas yang belum diolah sama dengan debu di tempatnya. Ketika orang berangkat dan mulai bekerja, dia akan mulia seperti bernilainya emas”.



[i] D.J. Schwartz. 1978. Berfikir dan Berjiwa Besar: The Magic of Thinking Big. Penerbit Gunung Jati, Jakarta.

Makna BEKERJA Keras

Inti dari seisi dunia ini pada hakekatnya adalah kerja. Dunia berjalan karena semua makhluk, hidup dan mati, berfungsi sebagaimana fitrahnya. Fitrah tersebut ialah kerja. Ada gerak fisik dalam arti sesungguhnya dalam kerja. Untuk kita ras manusia, kita memberi satu label kualitas pada kerja kita, yaitu ”kerja keras”. Ini bukan pilihan, namun keniscayaan. Individu dan masyarakat yang survive perlu kerja keras, tidak ”sekedar kerja” saja.
Apa itu kerja keras bisa dikenali dari karakternya. Bekerja keras adalah bekerja secara fisik dan pemikiran, serta mengorbankan materi dan non materi sampai batas tak bisa lagi dikorbankan. Pekerja keras memiliki niat yang kuat, bekerja secara cerdas, penuh konsentrasi, dan menepis kesenangan pribadi. Dari sisi fisik, bekerja keras adalah bekerja  sampai batas kemampuan fisik, dari sisi waktu sampai dengan batas ketersediaan waktu, dan dari sisi metode menggunakan prinsip seefisien mungkin. Orang yang bekerja keras hatinya penuh gelora semangat,  gemar dan rindu pada hasil kerja yang bermanfaat luas. Mereka senang bersosial dan berjamaah, mengoptimalkan kenalan, jaringan, teman, keluarga, dan seterusnya. Hasil yang diperoleh bukan untuk kesenangan, tapi untuk lebih produktif.
Secara sederhana, siapa itu ”pekerja keras” dapat dilihat dari bunyi iklan lowongan kerja ini: ”mengundang anda, para kandidat yang memiliki ketangguhan mental, semangat juang, berdedikasi tinggi, serta mengutamakan kualitas, efisiensi dan efektvitas dalam bekerja”. Dalam iklan lain tertulis: ”who are willing to grow within our company and explore the world at the same time”. Atau, mencari ”profesional yang ahli dan berpengalaman di bidangnya, memiliki integritas yang kuat serta mempunyai motivasi yang tinggi dalam berprestasi”.
Bekerja keras adalah bekerja tidak mengenal waktu. Hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi mengingatkan: “Seandainya kiamat tiba dan pada tangan seseorang ada sebatang anak kurma, maka hendaklah dia segera menanamkannya”.
Pada bab ini dipaparkan berbagai makna tentang kerja keras. Makna-makna ini disusun dari berbagai sumber, dan tidak terbatas pada definisi menurut agama saja.
******

PENDAHULUAN: Indonesia, Muslim, dan Kita

Muslim dan rakyat Indonesia adalah dua entitas yang mestinya berbeda. Namun, disini dan saat ini, kita mendapatkan keduanya dalam satu karakter. Kita bisa menerangkannya dalam satu helaan nafas saja. Entah ini datang karena nilai-nilai Islamnya, atau karena kondisi geografis, sosiologis dan kultural keindonesiaan kita. Disini dan saat ini, kita sama-sama merasa ada yang perih: kenapa kita begini? Atau, kenapa kita hanya begini?
Dalam buku ini saya bertolak dari kita, yang muslim dan juga  yang Indonesia. Kemunduran dan keterpurukan muslim sudah jamak kita dengar. Baiklah dikutip inferensi Hussain Hali, penyair muslim keturunan India (1837-1914). Peradaban Islam yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu, tak menonjol dalam kriya dan industri”. Akhirnya, Islam hanya bisa memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui [i]. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan, tapi di sisi lain terus-menerus menemukan kekalahan. ”... Tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi” [ii].
Kita jadi begini, karena mungkin ada yang salah dengan pemahaman kita[iii]. Abul A’la Maududi menuliskan ini dengan keras: ”....kita adalah orang Islam namun berada dalam keadaan yang menyedihkan dan memalukan. Kita adalah muslim namun menjadi budak. ... Tidaklah mungkin bagi seseorang yang mengakui firman Tuhan namun menderita dalam keadaan yang menyedihkan dan memalukan, hidup di bawah penjajahan, terikat dan tebelenggu. ....Jika kita meyakini bahwa Tuhan itu adil dan kepatuhan kepadanya tidak menyebabkan kita berada dalam keadaan yang memalukan, maka ada sesuatu yang salah dalam pengakuan kita sebagai muslim”.
Kondisi muslim saat ini diakui pula oleh kalangan ilmuwan muslim sendiri. Menurut Harun Nasution [iv], ada tiga periode historik umat Islam. Pertama, periode klasik (650-1250 M) yang ditandai dengan kreativitas dan etos kerja tinggi, Islam unggul secara politik dan ekonomi, perdagangan yang maju dengan Barat dan China, dan kalangan sahabat adalah sosok yang positif terhadap dunia. Teologi yang berkembang di era klasik ini adalah teologi sunnatullah atau teologi yang berdasarkan pada hukum alam (natural law). Kedua, periode tengah (1250-1800 M) yang dicirikan oleh etos kerja menurun, pesimis dan negatif terhadap dunia, serta berkembangnya sufistik Jabariyah, dan teologi determinis-fatalistik. Terakhir, periode modern (mulai 1800 M – sampai sekarang) barulah timbul kesadaran tentang lemahnya Islam, namun belum pernah lagi mencapai kegemilangan seperti periode klasik.
Lebih jauh, jika kita browsing di internet, bertaburan berita negatif tentang masyarakat muslim.  Dari satu website [v] sebagai contoh, terbaca misalnya disebut Islam menjadi residu peradaban, lekat dengan kemiskinan dan keterbelakangan,  miskin karena kesalahan sendiri, bank Dunia dan IMF prihatin kemiskinan muslim,  rendahnya HDI muslim, dunia Islam korup,   dan murtad demi setengah karung gandum.
Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif menyatakan bahwa umat Islam perlu menyadari bahwa klaim besar Islam sebagai agama yang rahmatan lil ’alamin masih jauh dalam kenyataan [vi]. Seterusnya disampaikan bahwa perintah dalam Surat Al Anbiya ayat 107 belum dilaksanakan. Ummat Islam mestinya “cepat siuman” karena tantangan masih sangat besar untuk mewujudkan perintah ini. Semestinya ummat Islam bisa mendominasi peradaban dunia, dan lebih jauh bisa menjadi payung bagi semua kalangan dan agama. Ia lah pemimpin, ia payung, ia lah rahmat.
Negara-negara berpopulasi Muslim dominan yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan 57 anggota memiliki potensi sedemikian besar, karena menguasai 70 persen  sumber energi dunia dan 40 persen bahan ekspor. Namun,  sebagian besar merupakan negara berkembang bahkan diantaranya termasuk dalam golongan negara miskin. Hanya sembilan negara muslim di dunia termasuk dalam kelompok maju. Sementara, 40 persen populasi muslim dunia masih buta huruf dan hidup di bawah garis kemiskinan dengan penghasilan kurang dari satu dolar AS per hari.
Kemiskinan, kesenjangan ekonomi, serta konflik dan tindakan kekerasan akrab di wilayah muslim [vii]. Kondisi ini diperburuk dengan sikap negara-negara Islam yang cenderung berjarak, egois, mementingkan diri sendiri [viii]. Ini menjadikan negara muslim rapuh menghadapi globalisasi dan hanya menjadi kelompok pinggiran dan rapuh [ix].
Sikap yang jauh dari gaya manajemen profesional bahkan ditemui dalam diri organisasi Islam terbesar. Pada sebuah buku[x], pada foto di halaman 191, terlihat Presiden SBY duduk sendiri didampingi Menlu Hassan Wirajuda di ruang sidang OKI (Organisasi Konferensi Islam) di Senegal, Afrika. Kursi lain di ruang tersebut kosong melompong. SBY datang paling awal sebelum pemimpin negara lain datang. Ini rupanya salah satu kebiasaan dalam rapat-rapat mereka. Jika benar bahwa kebiasaan tidak tepat waktu terjadi untuk pertemuan berskala internasional seperti ini, tentu ini sangat menyedihkan.
Sosiolog Max Weber yang sangat terkenal dengan bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, menilai bahwa Islam tidak menghasilkan kapitalisme. Tidak ada asketis dalam Islam, dan kapitalisme telah digugurkan dari kandungan Islam [xi]. Cerita miring tentang muslim juga kita dengar misalnya dari BB Harring, James L Peacock, Rosemary Firth dan Clive Kessler [xii]. Harring bahkan menyebut Islam sebagai pengganggu kultural (cultural intruder).
Namun pendapat Weber dinilai tidak ilmiah. Kritik ini tidak hanya datang dari kalangan Muslim, bahkan dari kalangan sosiolog sendiri. Paparan Weber mengenai etika Islam tidaklah benar dan analisanya dangkal. Salah satu sosiolog yang mengkritik Weber adalah Bryan S. Turner. Weber dinilai memperlakukan dan menafsirkan Islam secara faktual sangat lemah tidak seperti ia menganalisa calvinisme  pada etika Protestan. Kritik lain datang dari Huff dan Schluchter yang menilai pencarian Weber tentang Islam belumlah tuntas [xiii].
Nurcholis Masjid pun sejalan dengan kritik ini [xiv]. Kelemahan  Weber adalah karena ia mengumpulkan bahan-bahannya itu hanya dari disiplin sosiologi Prancis, padahal pada orang-orang Prancis itu sosiologi Islam belum terwujud, karena hanya hasil karya pribadi-pribadi para pejabat kolonial untuk urusan pribumi, peneliti sosial amatir, dan kaum Orientalis; bukan dari kalangan sosiologi. Itupun terbatas kepada kawasan Afrika Utara saja. Hal ini pun didukung Marshall G.S. Hodgson, seorang ahli sejarah dunia dan peradaban Islam dalam bukunya “The Venture of Islam” [xv].
Jauh setelah karya Weber tersebut, muncul beberapa tulisan yang menyebut adanya “etika Protestan” di kalangan Muslim. Misalnya dari pengamatan di kalangan Muslim Turki [xvi]. Mereka menemukan sekelompok pengusaha sukses Muslim di satu kawasan. Tulisan ini menyebutnya dengan kebangkitan karena adanya "Calvinist Islam." 
Indonesia? Baik kita lihat satu hal: korupsi. Dalam satu buku tertulis “… di antara yang paling korup adalah Indonesia, Rusia, dan beberapa negara Amerika Latin dan Afrika. Korupsi paling rendah di Eropa bagian Utara dan persemakmuran Inggris yang Protestan, sementara negara-negara penganut Konghucu di tengah-tengah [xvii]. Disini penulisnya mencoba mengkaitkan korupsi dengan agama yang dianut masyarakatnya.
Satu indikator yang sering diacu untuk masalah korupsi adalah IPK (Indeks Persepsi Korupsi). Skala peringkat IPK mulai dari 1 sampai 10. Semakin besar skor IPK suatu negara, semakin bersih negara tersebut dari tindak pidana korupsi. Lembaga Transparency International mengumumkan bahwa IPK Indonesia untuk tahun 2005 adalah 2,2 dan menempati urutan 133 dari 146 negara. Tahun berikutnya (2006) menjadi  2,4 dan menempati urutan 130 dari 163 negara. Berikutnya lagi, IPK Indonesia naik dari 2,3 di tahun 2007 (urutan 143 dari 180 negara) menjadi 2,6 di tahun 2008 (peringkat 126 dari 180 negara). Tampak bahwa meski kondisinya membaik tapi masih layak disebut sebagai “negara terkorup di dunia [xviii] .
Dalam Laporan Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2004 [xix],  nilai NHDR Indonesia berada pada peringkat 111 dari 175 negara. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index = HDI) [xx] meningkat dari 64,3 persen tahun 1999, menjadi 66,0 persen taun 2002. Berdasarkan Human Development Report dari UNDP, HDI Indonesia tahun 2007/2008 menempati peringkat 107, dua peringkat di bawah Vietnam. Secara lebih detail, untuk  nilai HDI Indonesia  di posisi 107, untuk harapan hidup nomor 100, untuk melek huruf lebih bagus yaitu nomor 56, dan pendapatan perkapita nomor 113.
Dari sisi yang lain, menurut David McCelland, agar satu bangsa makmur perlu setidaknya 2 persen warganya yang jadi wirausaha. Indonesia tahun 2007 misalnya hanya memiliki 0,18 persen warganya yang memiliki kemampuan dan berkesempatan sebagai wirausaha. Artinya, jumlah ini tidak sampai sepersepuluh dari yang semestinya. Bandingkan dengan AS yang memiliki 11,5 persen dan Singapura 7,2 persen.
Untuk gambaran orang Indonesia, bisa kita lihat pendapat Muchtar Lubis. Dari pidato kebudayaan pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta yang lalu dibukukan dalam “Manusia Indonesia”, ia menyebutkan bahwa beberapa ciri-ciri orang Indonesia yaitu munafik, tidak bertanggung jawab, feodal, percaya pada takhyul, dan lemah wataknya [xxi]. Dalam hal kerja, disebutkan bahwa manusia Indonesia tidak hemat atau boros, kurang suka bekerja keras kecuali terpaksa, dan cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati. Sisi positifnya adalah suka saling tolong, berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, dapat tertawa dalam penderitaan, senang dalam ikatan kekeluargaan serta penyabar, cepat belajar, punya otak encer, serta mudah dilatih keterampilan.
Antropolog Koentjaraningrat menyebut orang Indonesia memiliki mental suka menerabas.  Budayawan lain menyatakan hal-hal serupa yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya loyo, budaya instan, dan banyak lagi. Sukarno pun pernah mengingatkan ini dengan istilah yang lain, yaitu “jangan menjadi bangsa tempe”. Terakhir, ditambahkan Aa Gym yang mengatakan bangsa kita senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Dalam buku "Kultur Cina dan Jawa: Pemahaman Menuju Asimilasi Kultur" oleh Drs. P. Hariyono, dalam hal hakekat karya dan etos kerja, orang Jawa hampir tidak ada motivasi kuat untuk bekerja, mereka bekerja hanya untuk menyambung hidup dan lebih senang mengosongkan hidup untuk dunia akherat kelak. Generalisasi dari seluruh pernyataan ini tentu sangat debatable.
Etos kerja manusia Indonesia modern memang perlu ”dicurigai”. Seorang menteri yang membawahi bidang sumber daya manusia pernah menyatakan bahwa masih ada pemimpin dan aparatur negara yang mengabaikan nilai-nilai moral dan budaya kerja; sehingga lemah dalam  disiplin, etos kerja dan produktivitas kerja rendah [xxii]. Salah satu suku yang dipandang memiliki etos kerja tinggi adalah etnis Bali. Orang Bali sangat meyakini pemahaman bahwa perbuatan dan kerja itu adalah karma. Mereka tidak mengutamakan hasil, karena kerja yang baik adalah karma yang baik. Secara normatif, orang Bali itu tak ada yang pemalas [xxiii]. Ini semua pendapat para ahli, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, dan inipun masih terus diperdebatkan.
Saya belum menemukan satu karya yang baik dan ilmiah tentang bagaimana sesungguhnya manusia Indonesia memandang kerja. Beberapa buku banyak yang hanya melihat keburukan-keburukan belaka.
Apakah benar demikian? Di sisi sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Candi Borobudur pastilah terbangun karena adanya etos kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil, rasional, dan kerja keras. Demikian pula dengan berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan infrastruktur teknologi maupun sosial dalam pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai.
Bagaimana sesungguhnya etos kerja muslim dan orang Indonesia? Bahwa kita memang agak rendah etos kerjanya diakui oleh banyak kalangan, secara terang-terangan atau tidak. Sebagian menjadikan fakta ini sebagai cambuk, namun sebagian berkelit dengan menunjuk alasan lain di luarnya. Kalangan Barat telah lama beranggapan bahwa kita bangsa Timur pemalas. Namun hal ini ditentang oleh Alatas[xxiv].  Menurutnya, tidak benar kita pemalas. Penduduk primbumi sengaja tampak malas, karena kondisi yang tidak menguntungkan. Ini hanya mitos yang sengaja diciptakan dan disebarkan penjajah di seluruh wilayah Eropa. Sayangnya, citra negatif ini termakan pula oleh elit lokal. Namun, sampai sekarang mitos ini tampaknya masih hidup pula di kalangan kita sendiri [xxv]. Kesadaran yang sudah membatu ini telah dibongkar tokoh postkolonialis Edward Said dengan teori orientalismenya.
Tujuan Penulisan
Tujuan pokok saya adalah agar kerja dan bekerja tidak lagi dipandang sekedarnya. Kerja keras adalah inti ajaran dan perdaban muslim. Jangan malas bekerja keras karena takut kaya, karena begitu banyak yang bisa dilakukan jika Anda kaya. Buku ini bukan bagaimana menjadi pekerja keras, tapi mengapa perlu kerja keras dan bagaimana membangkitkan kultur kerja keras.
Untuk menuju menjadi rahmatan lil ’alamin, bagaimana mungkin tercapai jika mengurus diri sendiri saja susah. Sampai saat ini kita selalu menjadi bangsa pengutang dan penerima bantuan. Semestinya kita tidak hanya sekedar terlepas dari cap miskin, tapi harus memberi dan membagi kekayaannya kepada orang lain. Kita tidak semestinya dikuasi, tapi harus memimpin dan menjadi obor. Kita mestinya bukan lagi bangsa yang dijajah, tapi harus menjadi pencerah peradaban. Dan seterusnya.
Sebuah hadits mengisahkan bahwa nanti di hari kiamat, darah syuhada dan tinta ulama (orang-orang berilmu) akan ditimbang. Saat momen itu tiba, akan ada episode yang mencengangkan, yaitu tinta ulama lebih “berat” (lebih mulia) daripada darah syuhada [xxvi]. Alquran banyak memuliakan kalangan ulama dibandingkan mereka yang berpredikat mukmin sekalipun. Penulisan buku ini juga dilandasi oleh spririt ini.
Pendekatan Penulisan
Penulis sangat tahu diri sebagai orang yang sangat awam di bidang agama, bukan ustadz, da’i ataupun pengkhotbah, bahkan belum pernah nyantri. Karena itu, saya tidak banyak menganalisa, mensintesa, apalagi menemukan makna baru dan menyimpulkan. Semata-mata saya hanya mengumpulkan, menuliskan ulang, dan lalu menata sesuai topik-topiknya.
Saya tidak banyak memberi penilaian, pendapat dan semacamnya. Saya lebih banyak memaparkan saja. Memaparkan fakta-fakta dan pendapat-pendapat orang lain. Pembaca akan menyimpulkan sendiri, dapat menganalisisnya sendiri, menilainya sendiri. Bahkan jika diragukan, silahkan menelusuri sendiri kebenarannya, ga usah tanya saya. Sebagian besar bahan saya ambil dari ratusan blog di internet, namun sebagian saya telusuri dari sumber aslinya, terutama untuk kutipan ayat suci dan hadits. Mohon dicatat, belum semua hadits disini bisa saya telusuri. Saya sadar betul, yang baik dan benar selalu datangnya dari Allah; sementara yang salah, keliru dan buruk pastilah dari saya sendiri.
Agar memudahkan pemahaman, materi ini saya kemas dalam 101 point. Tipe penulisan seperti ini selain lebih mudah menuliskannya, juga diharapkan memudahkan dibaca dan tidak membosankan. Narasi dikemas secara ringkas dan padat, dan mudah-mudahan tidak kelihatan sok tahu dan sok menggurui. Angka ”101” dipilih untuk memberi kesan bahwa sesungguhnya alasan-alasan untuk bekerja keras tidak terbatas. Bukankah ada ungkapan ”seribu satu alasan” untuk maksud mencari-cari alasan.
Sistematika Penulisan
Buku ini ditulis dalam bentuk bagian-bagian yang terdiri atas 101 point, yang masing-masing memuat mengapa bekerja keras penting. Alasan-alasan tersebut sebagian menunjuk secara langsung, dan sebagian tidak.  Penulisan dalam bentuk point agar memudahkan pembaca dalam memahami. Selain itu, mengingat tidak banyak orang yang senang membaca buku dari halaman ke halaman, maka penulisan dalam point memudahkan untuk membaca dari mana pun.
Setelah bab pendahuluan, dilanjutkan dengan bab II berisi apa sebenarnya makna kerja keras. Meskipun terlihat agak ”memaksa”, bagian ini pun ditulis dalam bentuk point-point alasan. Bagian berikutnya merupakan bab yang penting dimana penulis ingin menyampaikan betapa bekerja adalah ibadah yang sangat utama. Selama ini tampaknya bekerja riel di dunia ini sering dinilai rendah dibandingkan ibdah-ibadah yang lain, bahkan sebagian ada yang cenderung menghindari.
Untuk menghindari keraguan, dalam bab IV saya paparkan bagaimana nabi, keluarga nabi, bahkan wali, penyebar agama yang masuk ke Indonesia, serta para pengkhotbah; semua bekerja. Mereka tidak menabukan kerja. Dan mereka juga mengajarkan berbagai keahlian dan keterampilan berekonomi kepada ummat selain ilmu agama.
Pada bab V disampaikan bahwa jika kita jujur, kerja keraslah yang telah menggerakkan dunia ini. Warga dunia memperoleh berbagai kemudahan karena peran mereka yang bekerja keras. Bab ini dilanjutkan dengan fakta bahwa sesungguhnya ”kerja” adalah sesuatu yang fitrah untuk semua makhluk di dalam dunia ini, bahkan untuk benda-benda yang kita sebut sebagai benda mati sekalipun.
Pada dua bab terakhir, bab VII dan VIII, disampaikan bahwa bekerja lebih bernilai dari sekedar harta, dan bekerja keras merupakan sesuatu yang yang indah, membahagiakan, dan menyenangkan. Dengan bekerja kita berharta, dan dari harta kita bisa berbuat kebajikan yang sangat banyak. Agama tidak melarang kita kaya, asalkan sumber dan penggunaannya sesuai tuntunan. 
Di akhir buku ini, saya ingin pembaca dapat pesan betapa bahwa muslim haruslah menguasai dunia. Islam dan muslim mestilah menjadi pemimpin dalam segala maknanya. Langkah awal untuk itu, muslim tidaklah takut atau setengah hati menjalankan dunia ini. Dunia yang sangat pendek ini, dibandingkan akhirat, menjadi sangat berarti. Waktu kita di dunia ini begitu terbatas, tapi ia menjadi penentu bagaimana nasib kita di akhirat yang waktunya tak berujung.
******



[i]  Si Buntung. Catatan Pinggir Gunawan Muhammad. Majalah Tempo edisi 3 Agustus 2009.

[ii] Ungkapan Enzensberger dalam “Si Buntung”. Catatan Pinggir Gunawan Muhammad. Majalah Tempo edisi 3 Agustus 2009
[iii] Maududi, Abul A’la. 1985. Menjadi Muslim Sejati. Mitra Pustaka. Bagian Pengantar oleh Khurram Murad. Hal 29-30.
[iv] Prof. Dr. Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta, 1990.
[vi] Arif Nur Kholis. 17 Juli 2007.    Buya Syafii: Umat Islam Belum Rahmatan Lil Alamin. http://www.muhammadiyah.or.id/......
[vii] Rangkuman diskusi panel sejumlah ulama dan pemikir Islam dari Somalia, Filipina, Indonesia, Suriah, dan Iran pada International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Ke-3, pada bulan Juli 2008 di Jakarta.
[viii] Dr Ali Mahmud Hassan, ulama Somalia, Ulama terkemuka Iran, Ayatollah Ali Taskhiri pada acara International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Ke-3, Kamis (31/7) di Jakarta.
[ix] Presiden Yudhoyono pada Seminar Internasional Ketiga Cendekiawan Muslim (ICIS) di Hotel Borobudur, Jakarta, Juli 2008. http://www.antara.co.id/.......
[x] Dino Patti Djalal. 2008. Harus Bisa! Seni Kepemimpinan a la SBY.
[xii] Ahmad As Shouwy dkk (13 penulis). 1997. Mukjizat A-Quran dan As-Sunnah tentang Iptek. Gema Insani Press, Jakarta. Cet. 3. 304 hal. Penelitian tentang perilaku dan sikap agama dari masyarakat yang diteliti, tapi tidak memperhatikan ajaran agama dari masyarakat tersebut. Tentang kondisi dan pengaruh atau akibat dari tipe perilaku sosial. Kesimpulannya: Islam menerima semangat hedonistik, yaitu terhadap perempuan, milik, kemewahan, dan kekuasaan.
[xiii] T.E. Huff dan W. Schluchter. 1999. Weber and Islam. New Brunswick, NJ: Transaction Publisher. http://irmawan.multiply.com/...
[xiv] Nurcholis Madjid. Dendam Lelaki Tanpa Seks. Resensi terhadap buku “Sosiologi Islam” karya Bryan S. Turner. Penerbit: CV Rajawali, Jakarta. 1984http://majalah.tempointeraktif.com/…
[xv] Nurcholis Madjid. Dendam Lelaki Tanpa Seks. Resensi terhadap buku “Sosiologi Islam” karya Bryan S. Turner. Penerbit: CV Rajawali, Jakarta. 1984. http://majalah.tempointeraktif.com/..... Juga dapat dilihat pada Ephraim Fischoff (review). Weber and Islam: A Critical Study by Bryan S. Turner. London and Boston: Routledge and Kegan Paul. 1974, 212 pp. http://www.jstor.org/pss/3710570; dan Syed Anwar Husain. “Max Webers, Sociology of Islam: A Critique”. http://www.bangladeshsociology.org/...
[xvi] Dan Bilefsky. Protestant Work Ethic in Muslim Turkey: As Central Anatolia Booms, Opinions Differ on The Role of Islam in Business. Herald Tribune. 15 Agustus 2006. http://www.iht.com/.... .
[xvii] Samuel P. Huntington dan Lawrence E. Harrison. Culture Matters: How Values Shape Proress. Tahun 2000.
[xviii] Nilai IPK ini didasarkan persepsi pelaku bisnis setempat. Survei ini juga mengukur tingkat kecenderungan terjadinya suap di berbagai institusi publik di Indonesia, yang ditampilkan dalam Indeks Suap. Khusus tahun 2008, total sampel dari survei ini adalah 3841 responden, yang berasal dari pelaku bisnis (2371 responden), tokoh masyarakat (396 responden), dan pejabat publik (1074).
[xix] Dalam Laporan Pembangunan Manusia Indonesia (The National Human Development Report = NHDR) tahun 2004, Ekonomi dan Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia. 20 Juli 2004. Kerjasama BPS, Bappenas, dan UNDP.
[xx] HDI diciptakan oleh Dr. Mahbub ul-Haq, dalam upaya memperbesar pilihan-pilihan manusia di semua bidang kehidupan.  HDI sangat economic tools, sangat fisikal, dan terlalu mereduksi. Hak atas pangan misalnya direduksi menjadi “konsumsi” dan “daya beli” belaka.
[xxii] Feisal Tamin (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara). “Transformasi Budaya Kerja Aparatur Negara”. http://www.sinarharapan.co.id/.......
[xxiii]  Adi Blue. Di Tengah Merebaknya Pengangguran, Benarkah Etos Kerja Orang Bali Menurun? Harian Bali Post. http://www.iloveblue.com/....
[xxiv] Syed Hussein Alatas. 1988. Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu Dan Filipina Dalam Kapitalisme Kolonial (1st edition). Penerbit: LP3ES, Jakarta. 358 hal.
[xxv] Selo Soemardjan. Mencegah Timbulnya Mitos Baru. http://majalah.tempointeraktif.com/...........
[xxvi] Husein Ja'far Al Hadar. Mengembangkan Islam 'Tinta'. Harian Republika, Jumat, 22 Januari 2010.  Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Marhabi.