Minggu, 28 September 2014

introduction

Condition of mosleem community today admitted by Muslim scientists themselves. According to Harun Nasution, there are three historical periods Muslims. First, the classical period (year 650-1250) is characterized by creativity and a high work ethic, Islam politically and economically superior, advanced trade with the West and China, and among friends is a positive figure on the world. Theology that developed in the classical era is sunnatullah theology or theology that is based on natural law (natural law). Secondly, the middle period (year 1250-1800) is characterized by declining work ethic, pessimistic and negative for the world, as well as the development of Sufi Jabariyah, and theology-fatalistic determinists. Finally, the modern period (starting year 1800 - until now) then raised awareness about the weakness of Islam, but it has never again reached the glories such as the classical period.
Countries belonging to the dominant Muslim population in the Organisation of the Islamic Conference with 57 members having such a huge potential, because it controls 70 percent of world energy resources and 40 percent of export material. However, most of the developing countries included in the class even among poor countries. Only nine Muslim countries in the world including in the advanced group. Meanwhile, 40 percent of the world Muslim population is still illiterate and living below the poverty line on less than one dollar per day.
Poverty, economic inequality, and conflict and violence in Muslim lands familiar. This condition is exacerbated by the attitude of Islamic countries that tend is, and selfish. It makes the country vulnerable Muslim face of globalization and just be a group of fringe and brittle.
Sociologist Max Weber who was known for his book The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, considered that Islam does not produce capitalism. There is no ascetic in Islam, and capitalism has been aborted from the womb of Islam. Slanted stories about Muslims also we hear for example from BB Harring, James L Peacock, Rosemary Firth and Clive Kessler. Harring even mention Islam as cultural intruder.
But Weber considered not scientific opinion. This criticism does not only come from Muslims, even among sociologists themselves. Weber exposure on the ethics of Islam is incorrect and superficial analysis. One of the sociologists who criticize Weber is Bryan S. Turner. Weber assessed treat and interpret Islam in fact very weak not like he was analyzing Calvinism in the Protestant ethic. Another criticism came from Huff and Schluchter that assess search Weber on Islam is not yet complete.
Nurcholis mosque was in line with this criticism. Weber weakness is that he put together the ingredients of the discipline of sociology that only France, but the French people that the sociology of Islam has not been realized, because only the work of individuals colonial officials for indigenous affairs, social researcher amateur, and the Orientalists; instead of the sociology. And that's limited to just the North African region. It is also supported Marshall G.S. Hodgson, an expert on Islamic history and civilization in his book "The Venture of Islam".
Long after the work of Weber, appeared a few posts that mentioned the existence of "Protestant ethic" among Muslims. Example of observation in Muslim Turkey. They found a group of successful entrepreneurs Muslims in the region. This paper calls it the resurrection because of the "Islamic Calvinists."
Purpose of this book
My ultimate goal is that work and hard work is the core of Muslim civilization. Do not be lazy to work hard for fear of being rich, because so much can be done if you are rich. This book is not how to be a hard worker, but why the need to work hard and how to generate a culture of hard work.
To go into rahmatan lil 'alamin, how could be achieved if only hard to take care of themselves. Until now we have always been a nation of debtors and beneficiaries. We should not just poor regardless of the stamp, but must give and share his wealth with others. We should not be dominated, but must take the lead and be the torch. We should no longer colonized nation, but should be lightening civilization. And so on.
A hadith relates that later in the day of Resurrection, the blood of martyrs and the ink of scholars (the magicians) will be weighed. When that moment arrives, there will be a stunning episode, the ink of scholars is more "heavy" (more noble) than the blood of martyrs. Qur'an much glorified among scholars than those predicated believer though. Writing this book was also guided by this Spririt. *****

Selasa, 24 April 2012

Testimoni


1.        “Tanpa berpretensi sebagai ulama, melalui contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari dan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, penulis berhasil menjelaskan betapa ajaran Islam sangat menghargai kerja keras ……” (Erfan Maryono, Senior Peneliti di LP3ES Jakarta).

2.        “Buku ini memberikan begitu banyak inspirasi untuk melakukan perubahan. Sikap yang salah dalam memahami etos kerja seorang muslim, tercerahkan sesudah kita dapat ‘memaknai bekerja keras dan disiplin’ sebagai bagian dari ibadah wajib kepada Allah SWT” (Drs Yayat Supriatna, MSP; Pengamat Perkotaan, dosen Jurusan Teknik Planologi Trisakti, Jakarta)

3.        “Dengan menggunakan bahan bacaan yang kaya dari berbagai perspektif, buku ini berupaya menyeimbangkan pemahaman kita selama ini yang timpang tentang Islam. Diungkapkan secara jelas dalam buku ini betapa kita perlu memposisikan dunia dan kerja keras secara lebih tepat. Karena dengan itulah keindahan dan kesempurnaan Islam akan bisa terwujud. Satu hal lagi, …. buku ini terbukti dapat dibaca semua orang, termasuk anak saya yang masih remaja”.  (Neng Kurniasih, Guru SMPN I Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman).

4.        “Sangat menarik membaca sudut pandang seorang sosiolog mengupas secara cerdas aspek religius dari kerja keras” (DR Erizal Jamal, Ahli Peneliti Utama pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor)
5.        Buku ini sangat membantu kita memahami narasi besar tentang kerja dalam konsep Islam dan hubungannya dengan realitas sosial yang ada, karena ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna dan banyak menyajikan contoh-contoh untuk dipahami. (Herman Oesman, Dosen Sosiologi Fisip Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Ternate)
6.        Biasanya satu buku yang membahasa Alquran tidak lepas dari tafsir secara normatif. Namun, buku ini unik dan perlu dibaca karena menggali uraian hikmah keajaiban Alquran yang dirasakan oleh siapapun. Bahwa semua datang dari Allah, sehingga dapat memotivasi kinerja tanpa batas untuk dekat kepada Allah. (Ridho Nugraha, Pimpinan BMT Ibaddurrahman, Ciawi Bogor)
7.        Buku yang layak dibaca untuk meningkaktkan semangat bekerja keras dalam kehidupan sehari-hari (DR. Tahlim Sudaryanto, Staf Ahli Menteri Pertanian, Jakarta)
8.        Isinya bagus, semakin membuat kita sadar bahwa suatu kesuksesan itu tidak mungkin kita peroleh tanpa kerja keras. Namun pada sebagian orang, apabila kesuksesan itu telah dicapai, mereka terkadang lupa bahwa itu juga karena ada pertolongan Allh SWT.  Mereka seolah-olah membanggakan hasil kerja keras tersebut sebagai hasil sendiri. (Yuli Yanti, petugas kesehatan Puskesmas, Bukit Tinggi).
9.        Bekerja dan mengeluarkan keringat untuk menghasilkan sesuatu yang beguna bagi kehidupan merupakan hal esensial dan terhormat dalam Islam. Hal ini adalah juga bagian dari ‘jihad’ (ibadah) muamalah. Buku ini dapat dikategorikan sebagai buku yang menjelaskan salah satu implementasi ‘jihad’ dalam kehidupan sosial-ekonomi-politik secara ‘lurus’. Buku ini mengisi kekosongan pemaknaan ‘jihad’ yang bersifat universal (pada konsep kerja). Sangat baik jika buku ini dibaca dengan fikiran terbuka dan visioner. Selamat membaca …………. (DR Tri Pranadji, Ahli Peneliti Utama pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor).
*****

Daftar Isi (lengkap)

101 Alasan Mengapa BEKERJA KERAS Harus:


Bab I. Pendahuluan: Indonesia, Muslim, dan Kita 1

Bab II  Makna Bekerja Keras 19

Karena Bekerja dan Bekerja Beras Beda 21
Karena Bekerja Keras Tidak Timbul Tanpa Etos 22
Karena Bekerja Keras Lahir dari Hati yang Bersyukur 26
Karena Bekerja Keras adalah Bekerja Lebih Lama 29
Karena Berlatih Keras termasuk Bekerja Keras 30
Karena Manusia Unggul Datang dari Kerja Keras 33
Karena Ketaatan Hati Mensyaratkan Ketaatan Fisik 35
Karena Bekerja Keras adalah Kerja yang “Lebih” 37
Bekerja Keras adalah Bekerja secara Kreatif dan Gigih 40
Karena Bekerja Keras adalah Bekerja di Dunia yang Riil 43
Karena Kerja Keras Datang dari Cinta 46

Bab III Bekerja adalah Hakikatnya Ibadah 51

Karena Ibadah Mahdhah adalah Tiang, Ibadah Ghairu Mahdhah adalah Bangunannya 54
Karena Bekerja Keras adalah Prinsip Hidup Muslim 57
Karena Ibadah Pertama yang Dikenal di Dunia ini Mestilah Dicapai dengan Bekerja Keras 60
Karena Ibadah adalah Inti Ajaran Islam 60
Karena Beriman pun Bermakna Melakukan 61
Karena Takwa Diindikasikan Pula oleh Kualitas Bermuamalah 63
Karena Bekerja juga Tergolong Berjihad 68
Karena Mencontohkan dengan Praktik adalah Nasihat yang Lebih Efektif dibanding Bicara 70
Karena Ada Siang dan Ada Malam 72
Karena Dunia adalah Jembatan untuk ke Akhirat 73
Karena “Ibadah Akhirat” Sesungguhnya Juga untuk Dunia 75
Karena Salat adalah Bekal untuk Menjalankan Kehidupan di Dunia 77
Karena Wudhu akan Membuat Kita lebih Sehat 81
Seluruh Gerakan Salat Diciptakan Allah agar Kita Memperoleh Kesehatan 82
Karena Puasa Bukanlah Siksaan, Namun Jalan untuk Menuju Sehat 88
Membaca Al-Quran akan Melahirkan Jiwa yang Tenang, Damai, dan Tenteram 91
Karena Bekerja akan Menghapus Dosa-Dosa 93
Karena Pekerja Keras akan Bertemu Allah dengan Wajah Berseri-seri 94
Karena Bekerja akan Memudahkan Terkabulnya Doa 94
Karena Bekerja Mendatangkan Pahala 95
Karena Tawakal hanya Boleh setelah Berusaha Sekerasnya 96
Karena Taubat tak Cukup di Lidah Saja 96
Dengan Bekerja Kita Bisa Dicintai Allah SWT 97
Dengan Bekerja Kita dapat Terhindar dari Azab Neraka 98
Karena Muslim Harus Melaksanakan Fungsi Kekhalifahannya dengan Sebaik-baiknya 99
Dunia adalah Ladang untuk Akhirat 100
Karena Dunia Harus Kita Kuasai, Sebelum Dunia yang Menguasai Kita 101

Bab IV. Para Rasul pun Bekerja 109

Karena Rasul pun Bekerja untuk Hidupnya 111
Karena Rasul Bekerja untuk Kehidupan Keluarganya 114
Karena Keluarga Nabi pun Bekerja 115
Karena Rasul Harus Bekerja Keras dalam Mengurus Umat 116
Karena Mengurus Umat Tidak Mendapat Upah 117
Karena Para Pionir Penyebar Islam ke Nusantara adalah Pedagang-pedagang Ulung 119
Karena Para Wali pun Mengajarkan Bercocok Tanam dan Berketerampilan 125

Bab V. Kerja Keraslah yang Menggerakkan Dunia 131

Karena Kerja Keras adalah Mata Uang Universal 133
Karena Kerja Keras Lebih Utama daripada Sumber Daya Alam 136
Karena Kerja Keras adalah Modal Peradaban 138
Karena Kerja Keras Terbukti Lebih Utama dari Pendidikan Formal 143
Karena Kerja Keraslah yang Membentuk Nasib 145
Karena Hanya dengan Bekerja Keras Kita Dapat Mendahului yang Lain 149
Karena Kerja Keras dan Kesuksesan Tidak Mengenal Usia 151
Karena Inti Kehidupan adalah Gerak, dan Inti Ibadah Juga Gerak 153
Karena Para Ilmuwan Islam adalah Peletak Dasar-Dasar Ilmu Modern 159
Karena Ilmuwan Muslim telah Menunjukkan bahwa Berkarya Nyata adalah Amal yang Sejati 163
Karena Ilmuwan Muslim Telah Membukakan Mata dan Pikiran Kita Bahwa Semua Ilmu adalah Ilmu Allah 170
Karena Amal Terwujud bila Dipraktikkan, Bukan Dihafalkan Belaka 172

Bab VI. Bekerja Sesuatu yang Fitrah dan Amanah 179

Karena Geraklah Inti Kehidupan di Dunia 181
Karena Agar Sehat, Manusia Harus Menggerakkan Badan dan Pikirannya 188
Bekerja adalah Fitrah Manusia Dihadirkan ke Dunia 192
Karena Allah Ingin Kita Bangga dengan Diri Kita Sendiri 193
Karena Makan dari Hasil Sendiri Sangatlah Terhormat 194
Karena Allah Memerintahkan Kita dengan Sangat Jelas 194
Karena Islam Mencela Orang-orang yang Suka Meminta-Minta 196
Karena Allah Adil pada Kita 198
Karena Allah SWT Sangat Cinta kepada Orang yang Bekerja 198
Karena Bekerja Keras Mengundang Rahmat Allah 200
Karena Kita Boleh Bahagia, dan untuk Bahagia Salah Satunya Dibutuhkan Harta 201
Karena dengan Kerja Keras akan Melahirkan Sikap Tawadhu 202
Dengan Bekerja Manusia Menjadi Manusia 203
Karena Bekerja Menjadikan Kita Terhormat dan Mulia 205
Karena Semua Pekerjaan Baik adalah Terhormat 207
Bekerja Meningkatkan Martabat 208
Karena Perlu Upaya Tertentu agar Doa Terkabul 210

Bab VII. Kerja Lebih Bernilai Dibanding Harta 215

Karena Dengan Bekerja Kita Mendapatkan Harta, dan Berharta Bukanlah Aib 216
Karena Zuhud Tidak Berarti Meninggalkan Dunia 219
Karena Nilai Kerja Dapat Jadi Indikator Ekonomi 222
Karena Nilai Kerja Lebih Prioritas Dibanding Nilai Penguasaan Sumber Daya 223
Karena Jaminan Kerja Lebih Penting Dibandingkan Jaminan Tempat Tinggal 225
Karena Kita Dilarang Menelantarkan Sumber Daya Ekonomi 226
Karena Allah Menjadikan Bumi untuk Kita Usahakan 227
Kerja Merupakan Syarat untuk Dapat Menguasai Suatu Sumber Daya Ekonomi 228
Karena Miskin Bukanlah Karena Tidak Berharta, Tapi Karena Tidak Bekerja 229
Bekerja Dapat Menjadi Mas Kawin 234
Karena Bekerja Menjadi Petani dan Pedagang yang Jujur Sangat Dipuji Nabi 235
Ibadah Ritual dan Kesalehan Hidup Tidaklah Berbeda 237
Karena Kaya Merupakan Jalan untuk Beribadah Lebih Banyak 238
Agar Bisa Berzakat Kita Harus Berharta Cukup 241
Menjadi Saleh dan Takwa Tidak Selalu Harus dalam Papa, Melarat, dan Sengsara 242
Karena Menikmati Harta Sewajarnya Bukanlah Dosa 245
Karena Ilmu Lebih Utama daripada Harta 247

Bab VIII. Bekerja Keras Sungguh Indah dan Menyenangkan 253

Karena Kita Diperintahkan Serajin Lebah 255
Karena Kita Diperintahkan Seproduktif Lebah 257
Karena Bekerja Banyak Bukanlah Siksaan yang Harus Dihindari, Namun Menghasilkan Kesehatan 262
Perintah Bekerja Keras Bukan Bermaksud Memberatkan 265
Karena Kerja yang Ikhlas akan Mencapai Surga Dunia 267
Karena Ikhlas akan Mewujudkan Surga di Dunia 270
Karena Anda Bisa Menjadi Sufi Sekaligus Manajer yang Sukses Dalam Waktu Bersamaan 273
Bekerja Sajalah, Biarlah Allah yang Tetapkan Hasilnya 275
Karena Otot yang Aktif Lebih Menyehatkan 280
Karena Mimpi Tidak Terwujud dengan Sendirinya 283

Penutup 287
Biodata Penulis 291

*****

Jumat, 04 November 2011

Ralat point ke-13

Pada point ke 13: “Karena Bekerja Keras adalah Prinsip Hidup Muslim”, yakni pada paragraf kedua, tertulis: 

“Bekerja keras dalam Islam adalah bekerja dengan sungguh-sungguh disertai dengan tawakal kepada Allah SWT. Yang dimaksud di sini adalah bekerja hingga kelelahan (Al-Ghaasyiyah: 3). Dst ……. “

Ralat:
Referensi menggunakan surat Al Ghaasyiyah ayat 3 dalam konteks ini kurang tepat, karena menceritakan tentang mereka yang kepayahan saat di akhirat kelak. Satu hadits yang lebih tepat semestinya misalnya adalah hadits dari HR Tabrani yakni: “Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT”. Referensi lain yang juga relatif sejalan adalah surat At Taubah ayat ke-120. Kalangan ulama juga menjelaskan bahwa ganjaran suatu amal akan bertambah besar seiring bertambah besarnya pengorbanan, kesabaran jiwa, dan kepayahan yang dirasakan demi menunaikan amal tersebut (kitab Al-Majmuu Al-Fataawa karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Demikian pula dengan hadits Rasul saw: “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir).
Demikian, mohon dimaafkan dan dimaklumi. Maklumlah, penulis buku ini bukan ulama, bukan ustadz, nyantri aja belon sempat. Maaf ya para pembaca.
******

Selasa, 25 Oktober 2011

Etika Kapitalisme dalam Islam

Tentang kapitalisme, sosiolog Max Weber yang sangat terkenal dengan bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, menilai bahwa Islam tidak menghasilkan kapitalisme. Tidak ada asketis dalam Islam, dan kapitalisme telah digugurkan dari kandungan Islam. Cerita miring tentang muslim juga kita dengar misalnya dari BB Harring, James L Peacock, Rosemary Firth dan Clive Kessler. Harring bahkan menyebut Islam sebagai pengganggu kultural (cultural intruder).Ada peristiwa-peristiwa kecil yang menarik , yaitu event dimana Rasul Muhammad SAW mencium tangan ummatnya. Maknanya jelas: ISLAM SANGAT MENGHARAGI PEKERJA KERAS. Menurut referensi sejauh ini, tidak banyak peristiwa Nabi Muhammad SAW mencium tangan ummatnya.


Namun pendapat Weber dinilai tidak ilmiah. Kritik ini tidak hanya datang dari kalangan Muslim, bahkan dari kalangan sosiolog sendiri. Paparan Weber mengenai etika Islam tidaklah benar dan analisanya dangkal. Salah satu sosiolog yang mengkritik Weber adalah Bryan S. Turner. Weber dinilai memperlakukan dan menafsirkan Islam secara faktual sangat lemah tidak seperti ia menganalisa calvinisme pada etika Protestan. Kritik lain datang dari Huff dan Schluchter yang menilai pencarian Weber tentang Islam belumlah tuntas.

Nurcholis Masjid pun sejalan dengan kritik ini. Kelemahan Weber adalah karena ia mengumpulkan bahan-bahannya itu hanya dari disiplin sosiologi Prancis, padahal pada orang-orang Prancis itu sosiologi Islam belum terwujud, karena hanya hasil karya pribadi-pribadi para pejabat kolonial untuk urusan pribumi, peneliti sosial amatir, dan kaum Orientalis; bukan dari kalangan sosiologi. Itupun terbatas kepada kawasan Afrika Utara saja. Hal ini pun didukung Marshall G.S. Hodgson, seorang ahli sejarah dunia dan peradaban Islam dalam bukunya “The Venture of Islam”.

Jauh setelah karya Weber tersebut, muncul beberapa tulisan yang menyebut adanya “etika Protestan” di kalangan Muslim. Misalnya dari pengamatan di kalangan Muslim Turki. Mereka menemukan sekelompok pengusaha sukses Muslim di satu kawasan. Tulisan ini menyebutnya dengan kebangkitan karena adanya “Calvinist Islam.”

Pertama adalah tangan sahabat Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Saat kembali dari sebuah perjalan, Nabi berjumpa dengan Sa’ad, dan memperhatikan tangannya yang kasar, kering, dan kotor. Ketika disampaikan bahwa tangannya menjadi demikian karena bekerja keras mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari; serta merta Nabi menciumnya. Sahabat lain bertanya, kenapa baginda Rasulullah SAW melakukan hal itu. Rasulullah SAW pun menjelaskan, bahwa itulah tangan yang tidak akan disentuh oleh api neraka, pula tangan yang dicintai Allah SWT karena tangan itu digunakan untuk bekerja keras menghidupi keluarganya.

Pada persitiwa lain, Rasulullah mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Mu’adz bin Jabal. Saat bersentuhan, beliau rasakan tangan itu begitu kasar. Beliaupun kemudian menanyakan sebabnya, dan dijawab oleh Mu’adz bahwa kapalan ditangannya karena bekas kerja kerasnya. Rasul pun mencium tangan Mu’adz seraya bersabda, “tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta tidak akan disentuh api neraka”. Dua tangan ini dicium oleh Rasulullah SAW, manusia termulia, padahal tangan itu bukanlah milik seorang kaya, orang berpangkat, syeikh, kyai, atau guru. Bukan pula tangan yang digunakan untuk menciptakan dan menulis ilmu atau mengangkat senjata. Ia hanyalah tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, buku-buku jarinya mengeras dan kapalan, dan warnanya hitam dan kotor; karena ia dipakai mencangkul, mengangkat, memotong dan menggenggam dengan kuat. Tangan karena pemiliknya bekerja keras.

Peristiwa terakhir adalah saat rasul mencium tanngan putrinya sendiri: Fatimah Az-Zahra. Ini bukan karena Fatimah adalah putri kesayangannya. Rasul melakukannya karena baru saja dilaporkan oleh sahabat yang kebetulan lewat di depan rumah Fatimah, betapa Fatimah telah bekerja sangat keras menggiling gandum di rumahnya untuk menyiapkan makanan bagi anak-anaknya yang terdengar menangis.

Mencium tangan, bagi sebagian kultur merupakan bentuk penghormatan sehari-hari yang lumrah. Ini adalah simbol penghormatan kepada pihak yang diposisikan lebih tinggi. Perkara mencium tangan pada sebagian ulama dipandang sebagai sunnah, meskipun berjabat tangan merupakan anjuran yang lebih kuat. Mencium tangan adalah bentuk ekspresi yang lebih emosional. Sebuah peristiwa menceritakan bagaimana dua orang Yahudi mencium tangan dan kaki Rasulullah karena kekagumannya atas kerasulan Muhammad SAW.

Begitu banyak bukti-bukti lain yang mementahkan pendapat Weber di atas. Semua dirangkum dalam buku sederhana dan dengan bahasa enak dibaca “Tangan-Tangan yang Dicium Rasul”, penerbit Pustaka Hira, Jakarta. Sept 2011. (Buku Tangan-Tangan yang DICIUM RASUL http://syahyutialasan.blogspot.com/)

in English:

Caliptalism Ethic in Islam

About capitalism, the sociologist Max Weber who is very famous with his book The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, considered that Islam does not produce capitalism. There was no ascetic in Islam, and capitalism has been aborted from the womb of Islam. Slanted stories we hear about Muslims as well as from BB Harring, James L Peacock, Rosemary Firth and Clive Kessler. Harring even mention Islam as a cultural intruders. There are small events of interest, ie events where the Muhammad kissed the hands of his community. Its meaning is clear: Islam like so much to HARD WORKER. According to the references so far, not many events of the Prophet Muhammad kissed the hands of his community.


But Weber considered unscientific opinion. This criticism came not only from Muslims, even among sociologists themselves. Exposure to Weber about the ethics of Islam are not true and superficial analysis. One of the critical sociologist Bryan S. Weber is Turner. Weber considered treats and interpret Islam in fact very weak not like he analyzed Calvinism on the Protestant ethic. Another criticism came from a judge Huff and Schluchter Weber searching about Islam is not yet complete.

Nurcholis  was in line with this criticism. Weber weakness is that he gathered the ingredients it's just the discipline of sociology France, when the French people that the sociology of Islam has not materialized, as only the work of individuals colonial officials for indigenous affairs, social researcher amateur, and the Orientalist; instead of the sociology. IBHS is limited to the North African region alone. This is also supported Marshall G.S. Hodgson, an expert on world history and civilization of Islam in his book "The Venture of Islam".

Weber's work long after it, appeared a few references to the existence of "Protestant ethic" among Muslims. For instance, from observations among Turkish Muslims. They found a group of successful Muslim businessman in the region. This paper calls it a revival because of the "Islamic Calvinists."

The first is a friend of Sa'ad ibn Mu'adh hands of al-Ansari. When returning from a journey, the Prophet met with Saad, and noticed that his rough, dry, and dirty. When informed that his hands became so because it worked hard to cultivate the land and transport water throughout the day; necessarily Prophet kissed it. Another friend asked, why did the king do that Prophet Muhammad. Prophet Muhammad also explained that it was the hand that will not be touched by the fire of hell, also the hand of a loved one due to Allah's hand is used to working hard to support his family.

On the other event, the Prophet held out his hand to shake hands Mu'adh bin Jabal. When touched, he felt the hand was so rude. Beliaupun then ask why, and answered by Mu'adh that callused hands as former hard work. Apostle as he kissed the hand Mu'adh said, "this hand loved God and His Messenger, and will not touch the fire of hell". Two hands are kissed by the Prophet Muhammad, the noblest man, but the hand that is not owned by a rich, rank, sheikhs, religious scholars, or teachers. Nor is the hand that is used to create and write science or take up arms. He just hands blistered and rough palms, knuckles harden and calluses, and the color is black and dirty, because he used to hoe, lifting, cutting and grasping it firmly. Hand because the owners work hard.

Recent events is when the apostle of his own daughter kissing tanngan: Fatimah Az-Zahra. This is not because Fatima is the beloved daughter. The apostle did so because recently reported by friends who happened to pass in front of the house Fatima, Fatima what has worked very hard to grind wheat at home to prepare food for her children is heard crying.

Kissing the hand, for the majority culture is a form of homage everyday commonplace. It is a symbol of respect to the parties that are positioned higher. Case kissed hands on some scholars regarded as sunnah, even shaking hands is a stronger recommendation. Kissing the hand is a more emotional form of expression. An event tells how two Jews kiss the hands and feet because of his admiration for the Prophet Muhammad's apostolate.

So much other evidence that undermines Weber's opinion above. All summarized in a book with simple and readable language "Islamic Miracle of Working Hard" publisher Manna and Salwa, Jakarta. February 2011. (http://syahyutialasan.blogspot.com/). ******

Senin, 07 Maret 2011

Daftar Isi

ISLAMIC MIRACLE OF WORKING HARD
"101 Motivasi Islami Bekerja Keras". Penerbit Manna dan Salwa, Jakarta. 2011.

Daftar Isi

Pengantar

Bab 1. Pendahuluan: Indonesia, Muslim, dan Kita - 11
Bab 2. Makna berkerja keras - 24
Bab 3. Berkerja adalah hakekatnya ibadah - 47
Bab 4. Para Rasul pun berkerja untuk hidupnya - 87
Bab 5. Kerja keras lah yang menggerakkan dunia - 102
Bab 6. Berkerja sesuatu yang fitrah dan amanah - 137
Bab 7. Kerja lebih bernilai dibanding harta - 163
Bab 8. Berkerja keras sungguh indah dan menyenangkan - 189
Bab 9. Penutup - 214

Biodata penulis - 216

Rabu, 16 Februari 2011

Reason #48: Due to the hard work is the source of civilization

One interesting book trying to find what the main key to the progress of civilization of the peoples of the world, regardless of nation and religion. Apparently Muslim superiority century 7 to 12, Europe afterwards, then Japan after the Meiji Restoration, and came to America today, and large of big man; is because: "They learn more, faster, more, more efficient , more focused, and more fun. They absorb, collect, synergize great sciences of other nations. It is also mentioned how people in this era and the Andalusian Caliphate Abasiyah learning with great enthusiasm as they see heaven before her.

Let's look at Japan. Within 20 years after atomic bombs devastated, Japan got up and was even able to rival the U.S. in many respects. This is the result of hard work and passion to restore dignity, never give up and difficult to accept defeat. Japanese work so strong. Work is everything. The man who works hard is the pride of the family. Working through the night is a habit, so that a wife would be embarrassed if her husband came home afternoon. There was a mention that a Japanese worker to accomplishing their work should be done 5 to 6 ordinary people.

Average working hours of employees in Japan is 2450 hours per year, is very high compared with America (1957 hours), English (1911 hours), Germany (1870 hours), and France (1680 hours). An employee in Japan could produce a car in 9 days, while workers in other states require 47 days to make the car worth the same. The phenomenon of karoshi (death due to hard work) may only occur in Japan. Poverty natural resources also does not make them surrender. Japan not only be importing petroleum, coal, iron ore and timber; even 85 percent of its energy sources coming from other countries including Indonesia.

The Japanese Bushido applying the work ethic which consists of seven principles, namely: Gi, the correct decision was taken with the right attitude on the truth. If you should die for that decision, die gallantly, because death is such an honorable death. Yu, brave and being a knight. Jin, generous, loving and being kind to others. Re, to be polite and act correctly. Makoto, be sincere sincere, be it with the real truth, and selfless. Melyo, guard of honor, dignity and glory. And, Chugo, devoted and loyal.

One more thing, Japanese people also have souls where they are never satisfied with the outcome. They are always fiddling again to perfect whatever they make. It is a spirit without end.

Islam actually has a high business ethic and business ethic surpassed any nation in the world. Islam is very encouraging entrepreneurship. Islam is the religion of the merchants. Born in the city of trade, and spread to all corners of the world by the merchants. Prophet and most of the companions are the traders. Thus, the ethos entrepreneurship is already united with Muslims themselves.

Islam also raise the degree of the merchants so that this profession is
The first had the honor to pay 'zakat". In its spread, in addition to religious knowledge, the traders had also bequeathed to the community trade skills.
From Clifford Geertz's research in Java in the 1950s found that, pioneering in the field of trade in the "santri". Traders and businessmen in Mojokuto (pseudonym), in addition to the Chinese students must be "santri". Outside the company-owned Chinese companies, all of them belonged to a Muslim reformist, or that are affected by the ideas of Islamic reformism. Geertz argue that reformism and the puritanism of Islam is a doctrine for almost all businesses there. The nature of the ascetic life of puritan piety teaches the highest, where someone who already believe should be a lot of good works. It's just different terms with what Weber called the "religious calling" or beruf in the original German-language books.

Research Kuntowijoyo of iron crafts entrepreneurs in the Batur (Klaten, Central Java) also proves the same. He discovered the close relationship between the religious life of the students and their entrepreneurial behavior. Islamic Puritanism, in addition to embracing the attitude of asceticism life, obliges its followers to be more enthusiastic and sincere in economic enterprises. Working hard is the true essence of the Qur'an and hadith.

SI (Sarekat Islam) movement Islamic Trade Organization (SDI), is one proof that the spirit of capitalism Muslims contributed to the occurrence of changes in economic, social and political life of this nation. Muhammadiyah was founded by students merchants and traders in the cities. Muhammadiyah's history attached to the rise of economic power in Pekajangan textile businessman, Pekalongan, and in the area Laweyan, Surakarta. Similarly Nahdlatul Ulama (NU), which actually preceded the movement Tujjar Nahdlatut organization (Awakening The Traders). The composition of the board of NU's first period is a collaboration of scholars (Syria) and employers (Tanfidziyah).

One element civilization is the language. Why the English language could become a world language? Because they are more actively engaged in the world. Similarly, presumably why the Melayu Language and elected to base Indonesia language. Yes, the Malays be more diligent wander. They set sail and to trade in almost all coastal areas of the archipelago. *****